Gandrung adalah ibu kesenian dari daerah banyuwangi, namun kesenian ini sudah jarang peminatnya. Itu dikarnakan tari gandrung ini adalah tarian yang sarat dengan adegan di luar norma.

Tapi masih ada juga loh yang mau melestarikan kebudayan bangsa Indonesia ini.

Dia adalah Mesti. Orang asli banyuwangi, ia lahir pada tahun 1954 bulan Juli tanggal 5. Tepatnya kamis wage. Tapi ia terlahir dengan kondisi fisik yang lemah dan mudah sakit, sampai akhirnya orang tua mesti tidak sanggup lagi mengurus mesti. Dan akhirnya mesti pun di urus oleh bude nya. Bude mesti berjanji, bila mesti sehat nanti maka ia akan di jadikan penari gandrung.

Dan akhirnya mesti pun belajar gandrung selama 15 tahun, dia menjadi kan gandrung sebagai mata pencarian, dari hasil menari dia sudah mampu membeli sapi dan tanah di kampong. Kemudian mesti pun menikah dengan seorang bernama cipto. Tapi cipto ternyata bukan tipe suami yang mesti harapkan, cipto kerap kali bermain wanita dan jarang pulang, sampai akhirnya mesti pun memutuskan untuk bercerai dengan cipto. Tak lama setelah bercerai mesti pun menikah lagi, dengan ridwan, mungkin ridwan adalah sosok yang cocok dengan mesti, karna terbukti pernikahanmereka langgeng.

Walau pun sudah menikah, mesti tetap menari gandrung, nahkan sampai waiting list. Karna sangking banyak nya permintaan untuk menari di banyak tempat. Dan juga sekarang sudah jarang yang mau menari gandrung. Sebenarnya  tari gandrung pada awalnya adalah tari pergaulan seperti tari-tari lain gandrung juga mempunyai cirri khas. Yaitu terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama disebut jejer. Dimana seorang penari bernyanyi sendiri sebagai salam pembuka kepada penonton. Dan tahap ke dua adalah pacu Gandrung, yang berarti melayani para tamu. Di tahap ini sering muncul adegan-adegan di luar norma, hal ini yang menyebabkan gandrung di tinggalkan oleh para kaula muda yang seharusnya bias melestarikan tari ini. Dan tahap yang terahir adalh tahapan sumblang subuh. Di tahpa ini penari bernyanyi dengan pantun, yang liriknya penuh denganperingatan kepada para penonton. Dan setiap pementasan gandrung harus ada peras di kamar rias dan di tempat music.

Demikian lah sepenggal cerita dari penari gandrung yang kini sudah mulai jarang di temui.