Produksi Gas bumi Indonesia

Keadaan cadangan maupun produksi gas bumi Indonesia mengalami peningkatan secara nyata dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. BPMIGAS bersama KKKS terus mengadakan kegiatan eksplorasi dan melakukan pengembangan lapangan gas baru. Diperkirakan dengan status on-going and new Plan of Development (POD), produksi gas mencapai 7,8 bcfd (billion cubic feed per day) di tahun 2004. Produksi akan mencapai puncak pada tahun 2008, dengan volume 8,3 bcfd.

Pendapatan Negara di Indonesia masih di dominan oleh peranan komoditi gas bumi sebagai penghasil devisa Negara terbesar  dalam memberikan kontribusinya untuk mengisi kas negara Indonesia. Meskipun saat ini peranan tersebut semakin menurun yang di karnakan faktor-faktor tertentu namun komoditas migas tetap merupakan andalan dalam pengembangan perekonomian Indonesia.  Seiring dengan terus melonjaknya kebutuhan minyak bumi di dalam negeri dalam satu dasawarsa terakhir ini, menyebabkan ketergantungan terhadap impor semakin besar. Pada suatu sisi, penerimaan devisa negara akan meningkat namun pada sisi yang lain untuk memenuhi kebutuhan BBM domestik, pemerintah harus menambah minyak mentah sebagai bahan baku, akibatnya harga pokok BBM membesar dan pemerintah harus menambah subsidi untuk mencapai harga yang dapat terjangkau oleh masyarakat. Persoalan ini semakin berat karena peningkatan konsumsi di dalam negeri dalam satu dasawarsa terakhir semakin tergantung pada impor. Kondisi tersebut mendorong perlu adanya pemanfaatan gas bumi, mengingat cadangan gas bumi yang ada cukup besar untuk dipasarkan pada konsumen domestik maupun internasional sehingga memberikan alternatif sumber energi di dalam negeri.

Permasalahan lain juga muncul, walaupun kemampuan produksi gas bumi sangat besar namun karena cadangan gas bumi letaknya tersebar di seluruh Indonesia dan cadangan-cadangan gas bumi yang besar letaknya jauh dari pusat pasar/konsumen yakni Pulau Jawa yang memiliki cadangan yang terbatas karena pada waktu yang lalu harga gas bumi tidak menarik bagi investor untuk bersaing dengan harga BBM yang disubsidi, sehingga investor enggan menanamkan modalnya untuk pengembangan cadangan gas bumi pada daerah tersebut. Kondisi di atas menimbulkan pertanyaan, seberapa besar peranan gas bumi saat ini terhadap perekonomian Indonesia yang secara ekonomis dapat diandalkan sebagai sumber energi alternatif. Penelitian ini mencoba untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan di atas, yaitu dengan cara melakukan studi empiris yang meliputi analisis deskriptif, analisis kuantitatif dengan menggunakan model input-output. Berdasarkan hasil dari analisis input-output serta didukung dengan analisis deskriptif maka dapat diketahui bahwa: secara umum pemanfaatan gas bumi belum optimal sehingga perlu untuk dilakukan optimalisasi pemanfaatan gas bumi.

Di satu sisi pemerintah tidak tinggal diam. Untuk mengatasi hal tersebut, antar lain dengan terus mendorong pembangunan infrastruktur dan memberikan insentif bagi produsen gas. Koordinasi dengan departemen terkait, BPMIGAS, konsumen, dan industri terus dilakukan, termasuk melakukan kajian soal supply and demand gas nasional. Ini untuk menjawab pertanyaan, apa betul kita defisit gas? Perlu dipahami juga, gas berbeda dengan minyak. Apabila sudah ada kesepakatan dalam bentuk kontrak jual juga volume yang biasanya dalam jangka panjang, maka lapangan tersebut baru dikembangkan. Dengan demikian sangat sulit mengakomodasi permintaan kebutuhan di suatu wilayah yang tidak direncanakan kontrak dengan pembeli.

Setelah menyusun  neraca gas, baru dikaetahui Indonesia kekurangan gas sebesar 477,6 mmscfd. Tiga wilayah yang mengalami defisit gas, yaitu Kalimantan bagian Timur, Sumatera bagian Utara dan Papua.  Berdasarkan Neraca Gas Indonesia, dari 11 region, pada tahun 2007 sebanyak 3 wilayah dinyatakan defisit gas, 4 wilayah seimbang, dan 4 sisanya dinyatakan surplus gas. Tiga wilayah yang defisit adalah Sumatera bagian Utara (defisit 26,5 mmscfd), Kalimantan bagian Timur (450,1 mmscfd) dan Papua (1 mmscfd). Sementara 4 wilayah yang seimbang supplai dan demand gasnya adalah NAD, Sulawesi bagian Selatan, Sulawesi bagian Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan 4 wilayah yang surplus adalah Natuna (surplus 30 mmscfd), Sumatera bagian Tengah-Selatan-Jawa bagian Barat (152 mmscfd), Jawa bagian Tengah (0,7 mmscfd), dan Jawa bagian Timur (1,1 mmscfd). Untuk kawasan yang defisit ini, sebagian besar dikarenakan pasokan yang ada sudah terikat kontrak. Kalimantan bagian Timur defisit, karena gasnya sudah

terkontrak untuk ekspor ke luar negeri. Sedangkan untuk Sumatera bagian Utara dan Kalimantan bagian Timur, defisit masih akan dialami hingga tahun 2009.

Selanjutnya, Pemerintah memperkirakan defisit gas yang terdapat di dua wilayah yakni Kalimantan bagian Timur dan Sumatera bagian Utara baru dapat teratasi mulai 2010. Data yang dimasukkan pada neraca gas ini adalah data dari lapangan yang sudah produksi dan PoD telah disetujui. Sedangkan lapangan Cepu yang PoD-nya belum disetujui, belum dimasukkan ke dalam hitungan neraca gas. Untuk mengatasi kekurangan gas di beberapa wilayah,

Pemerintah menyiapkan tiga opsi. Pertama, meminta pembeli gas mencari di tempat lain atau mengurangi volume gas ekspor. Kedua, melakukan pengalihan pasokan gas (swap) dengan cara membeli gas dari tempat lain. Jika disetujui, kemungkinan pengalihan gas diambil dari Malaysia atau Qatar. Sedangkan opsi terakhir adalah menunda ekspor sampai 2010. Selain itu, ada usulan untuk menggunakan mini LNG terminal. Dengan terobosan ini pemenuhan kebutuhan gas di daerah-daerah yang kekurangan gas diharapkan dapat dipercepat. LNG terminal mini ini dibangun di wilayah yang mengalami defisit gas. Selanjutnya, gas dijadikan LNG kemudian dikapalkan dari kawasan surplus ke kawasan defisit.

sumber

http://garuda.dikti.go.id/jurnal/detil/id/0:1406/q/pengarang:Wibowo%20/offset/105/limit/15

http://www.bpmigas.com/dokumen/bulletin/edisi.25.pdf