Latest Entries »

Ayah yang Tak Sempurna

Kisah ini milik seorang Ayah, seorang manusia biasa yang jauh dari sempurna, ya aku adalah seorang Ayah. Ayah dari ke tiga anakku yang tlah lama aku tinggalkan. Anak-anak yang bisa tumbuh dewasa tanpa aku ada di samping mereka. Anak-anak yang bisa tumbuh mandiri tanpa bimbingan seorang Ayah, tapi hanya dengan bimbingan seorang ibu.

Ya dia istriku, seorang istri yang berhati besar, yang bisa mendampingi anak-anakku tumbuh dewasa dan mandiri. Entah bagaimana caranya dia bisa membiayai anak-anakku hingga seperti sekarang. Tak hanya itu, istriku selalu mengajarkan anak-anakku kasih sayang, kelembutan, dan kedewasaan. semua itu membuat anak-anakku begitu menyayanginya, mungkin itulah yang menjadi harta paling berharga bagi mereka “saling memiliki”.

 
Istriku tak pernah mengeluh sedikitpun meskipun hidupnya tak mudah!! sama sekali tak mudah!! aku tau itu. Mungkin hatinya sakit, sedih, pilu, bingung, karna aku tinggalkan. Tapi semua itu tak pernah dia tampakkan sedikitpun di hadapan anak-anakku.

Yah semua itu tak lepas dari campur tangan Alloh. Alloh memberi dia cobaan tapi Alloh juga menguatkannya. Alloh memberi hati yang besar kepadanya. Ketika anakku yang pertama, yang bernama Adrian sudah lulus sekolah dia berusaha mencari nafkah sendiri. Entah dapat pengalaman dari mana dia bisa menjadi seorang IT secara otodidak hingga akhirnya dia bisa di terima bekerja di sebuah perusahaan besar.

 

Dia pun bisa membantu ibunya dan juga adik-adiknya yang masih sekolah, sampai adik-adiknya bisa kuliah. Adik-adiknya pun adelia dan asya juga tidak bergantung sepenuhnya kepadanya, mereka kuliah sambil bekerja. Di tengah kesibukannya, mereka juga tak pernah lupa dengan ibu mereka, meskipun kadang mereka harus meninggalkannya sendiri demi pekerjaan. Sekarang mereka sudah menjadi anak-anak yang mandiri.

Selama ini mereka selalu berusaha mencariku tapi Alloh belum mengizinkan kami bertemu, mereka pun sempat putus asa mencariku, mungkin dalam hati mereka ada kebencian terhadapku, tapi ibu mereka selalu bilang seperti apapun ayahmu mereka tetap ayahmu, tidak ada yang namanya mantan ayah. Ternyata cinta istriku kepadaku tak pernah luntur sedikitpun, meskipun aku sudah sangat menyakitinya, menyia-nyiakannya.

Sebenarnya selama kepergianku kehidupanku tidak jauh lebih baik. mungkin ini peringatan Alloh bagiku yg telah meninggalkan keluargaku. Tapi kembali kepada mereka pun aku enggan, aku tidak yakin mereka masih mau menerimaku.

Ternyata istri dan anak-anakku juga merasakan bahwa aku tidak bahagia selama aku pergi, mereka pun terus mencariku, karena mereka menginginkan aku bisa hidup bahagia di hari tuaku bersama mereka. Akhirnya dengan kebesaran-Nya, Alloh mengizinkan aku bertemu dengan mereka.

Setelah aku bertemu kembali dengan keluargaku yg telah lama aku tinggalkan, hati ini trenyuh merasakan perlakuan anak-anakku kepadaku. Mereka menerimaku dengan baik, mereka memperlakukan aku dengan sangat hormat sebagai orang tua mreka, mereka selalu berusaha menyenangkan hatiku.

Dan ketika aku bertemu istriku tidak ada amarah sedikitpun di hatinya. Baktinya terhadapku sebagai suaminya tak berkurang sedikitpun bahkan bertambah. Tak pernah dia membahas salahku padanya selama ini, meskipun sebenarnya aku tau hatinya amat sakit selama ini. Itulah hebatnya dia hanya kepada Alloh dia menceritakan keluh kesahnya, sakit hatinya, dan semua masalah hidupnya, karena dia tau hanya Alloh yang bisa membantunya, apapun perantaranya. Mungkin kata maaf ini tidak akan cukup untuk bisa menyembuhkan luka hatimu selama ini istriku. Dia wanita paling sempurna yang pernah ku kenal. Ku ucap syukur kepadamu ya Alloh, telah kau bentuk keluargaku sedemikian indah selama kepergianku.

Maafkan ayah anak-anakku yg belum bisa menjadi ayah yang baik buat kalian. Tapi kalian telah menjadi anak-anak yang sangat baik bagi ayah. Mungkin ini cara Alloh membentuk kalian menjadi anak-anak yang hebat. Karena Alloh punya 1000 cara tuk merubah hambanya jadi lebih baik. Seberat apapun cobaannya orang iman, tidak akan mungkin membuat celaka, karena bukan itu tujuan Alloh melainkan untuk membuat orang tersebut jadi lebih baik. Dan ini skenario Alloh untuk kita, yang harus kita lakoni. Dunia ini hanya panggung sandiwara anakku. Apabila kita melakoninya dengan baik sesuai arahan Alloh maka akan berbalas surga, sebuah nikmat yg abadi.

 

 Pengertian Etika

            Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995) Etika adalah Nilaimengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan ataumasyarakat. Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk,tentang hak dan kewajiban moral

 

            Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkataturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilakumanusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harusditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolonganmasyarakat atau profesi”Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yangberarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaituStudi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurutruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangaimanusia dalam kehidupan pada umumnya Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yangberbicara tentang praxis (tindakan) manusia.

 

            Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkanmempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma agama,norma moral dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan

 

            suatu profesi perlu etika itu dikarenakan suatu profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Dimana keahlian yang dikerjakan dan dihasilkan itu harus berpedoman dengan sebuah etika. Dimana Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi.

 

            Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi:

  • Kredibilitas : Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.
  • Profesionalisme : Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai jasa Akuntan sebagai profesional di bidang akuntansi.
  • Kualitas Jasa : Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan diberikan dengan standar kinerja tertinggi.
  • Kepercayaan:  Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika profesional yang melandasi pemberian jasa oleh akuntan.

            Seorang akuntan harus bekerja dengan memperhatikan kode etik profesi akuntan. Jadi sangat penting untuk diingat bahwa akuntan harus bekerja berdasarkan standar yang berlaku dan tidak dengan sengaja membuat informasi yang menguntungkan kepada pihak-pihak tertentu.

 

Menurut Mulyadi Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika  antara lain:

1.      Tanggung Jawab profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

2.      Kepentingan Publik

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme.

3.      Integritas

Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.

4.      Obyektivitas

Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.

5.      Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.

6.      Kerahasiaan

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

7.      Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

 

8.      Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalny

 

 

17 april

ini adalah tanggal yang akan selalu saya ingat mulai 17 april tahun ini, karna di tahun ini banyak hal yang terjadi yang mampu merubah kehidun saya kedepanya.

awalnya 17 april adalah tanggal yang menyenangkan bagi hidup saya, tapi semenjak tahun 2012 semua berubah, karna di tanggal tersebut tepatnya di hari senin orang yang selama 21 tahun merawat, mendidik, melindungi saya telah pergi meninggalkan saya. beliau dipanggil oleh sang pencipta melalui penyakit yang ternyata sudah lama beliau rasakan.

waktu begitu cepat, saat pertama kali beliau masuk rumah sakit ironisnya saya sedang berlibur di pulau dewata dengan sepupu saya dan menikmati fasilitas yang tidak orang lain bisa rasakan. ketika saya buka handphone saya, melihat tulisan bahwa beliau di rawat. padahal 2 hari seblumnya saya masih mencium tanganya untuk pamit ke bali, jadi saya tidak begitu khawatir ketika mendenger beliau masuk rumah sakit karna saya pikir beliau hanya kelelahan dengan jarak tempuh kerjanya yang baru.

dan setelah saya pulang dari bali saya masih mendapati beliau dirawat jadi seelah sampai diruah saya langsung menjaga beliau di rumah sakit. stelah beberapa hari dirwat beliau di ijinkan untuk pulang, mendengar kabar itu saya sangat senang karna itu menandakan bahwa beliau mulai membaik. tapi ternyata setelah dirawat jalan dirumah keadaan malah makin memburuk, chek up pun dilakukan ber ulang-ulang obat obatan herbal pun coba dibrikan, sampai ke tempat pengobatan alternatif pun di datangai. tapi ternyata tidak ada hasil positif yang kami dapat, hingga beliau pun tidak sanggup lagi makan sendiri. masih ingat saya ketika iya dengan kerendahan hati mengisyaratkan minta untuk saya suapin makanan yang saya sediakan karna beliau sudah tidak sanggup lagi untuk mengangkat sendok untuk dirinya sendiri. ketika ingin ke kamar mandi saya berusaha membantu nya jalan karna kakinya sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya untuk berjalan sendiri. tubuhnya begitu kurus lemah dantak bertenaga.

 

to be continue………………..

I do not agree to keep such arrangements in the future due to concerns about the future of mankind is essential and justified, but they can not help increase the productivity of 25 years but not able to be involved at the end of the month. For that, we should try to divide a large project for digestible bites, with a healthy slathering of praise for each phase will be conducted

I work for money, and have their own income. I am forever because it is impossible to rely on parents, and everyone needs money. with changes in the regeneration of life as fast or faster then I’ll replace my parents as a father who must have their own income and have their own family

The Baby Boomers

The Boomers, born between 1946! and 1964, were brought up in an abundant, healthy

post-war economy,! becoming an egocentric generation. They saw the world! revolving

around them.  Nuclear families! were the norm. More than anything, work has been! a de-

fining part of both, their self worth and their evaluation of others.! Their life style revolves

around the fact that they live to work.! Balance is a quaint idea but not really a possibility.

As such, they!see the workday at least!8 a.m. to!5 p.m.! This is a significant! tension point

between them and the newer generations, as they expect! others to have the same work

ethic and work the same hours. The earlier! part of this generation followed the “bent”

rules set by the traditionalists.

 

The X Generation

The generation X, born between 1965 and 1980, was

the first generation raised on “to do lists” and grew up

with high rate of blended families.! They were also

brought up in the shadow of the influential boomer!

generation. They witnessed their parents sacrifice

greatly for their companies. As a consequence, they!

developed behaviors (not values) of independence, re-silience and! adaptability more strongly than previous

generations.! In opposition to the hard driving Boomers who live to work, they work! to live

and view the world with a little cynicism and distrust.

 

Generation Y

The Y generation, born! between 1981 and 2000, has been portrayed as the next big gen-eration, an!enormously powerful group that has the sheer numbers to transform every life

stage it enters.!!They were brought up during the ‘empowerment’ years where everyone

won!and everyone got a medal. Raised by parents who nurtured! and structured their lives, they were drawn to their fami-lies for! safety and security. They were also encouraged to make their own! choices and

taught to question authority. This group was also raised in! a consumer economy, and as such, expects to influence the terms and! conditions

of their job. As a result, they expect employers to!

accommodate their ‘consumer’ expectations in this

regard.! This is the basis for the expecting more style

that characterizes this! generation. They don’t neces-sarily see that they should get more, but! that an em-ployer should give more to their employees.  They

were brought up with an ‘empowered’ parenting style

and therefore they are not afraid to! express it their opinion.

Generation Y (as well as X, to a lesser degree) is also the first to! grow up with computers

and the Internet as a significant part of their! lives. Constant experience in the networked

world has had a profound! impact on their style in approaching problem-solving situations.

This! generation of worker is coming into the workforce with networking,! multiprocessing,

and global-minded skills that the traditionalists and baby boomers could not have imag-ined.

The advent of interactive media such as instant messaging, text! messaging, blogs, and

especially multi player games have generated new! skills and styles of collaborating in the

generation X and the generation Y to such degree that it has made them different.  This

‘always on’ or ‘always connected’ mind-set is!at the heart of some of the friction that ex-ists between the! generations.  The x and y generation is challenged by the! rigidity of the

eight to five workdays.

Phrase

1. Singing from the same hymn sheet = If people are singing from the same hymn sheet, they are expressing the same opinions in public.
example : Fathia and nanda made the same comment about a draw between AC Milan vs FC.barca as Singing from the same hymn sheet.

2. Talk the talk, walk the walk = you say you can do something, you can do what you say you can do.
example : The council can only talk the talk, but there never was a walk the walk.

3. The elephant in the room = An elephant in the room is a problem that everyone knows very well but no one talks about because it is taboo, embarrassing, etc.
example : the laws in Indonesia existing at this time as The elephant in the room.

4. Pass to the monkey = loss or be sneaky
example : The corruptor  in this country are the ones who Pass to the monkey.

5. All hands to the deck = Something that you say when everyone’s help is needed, especially to do a lot of work in a short amount of time
Example : all of Indonesia’s national team players must help each other to defeat the enemy before it adds a lot to all hands on deck.

          In each lesson we surely will always be met with obstacles which his name, in english lesson even this same time there are barriers that make me a less enthusiasm to take this lesson.

           For example the english lesson, there are obstacles that I encountered, such as mastery of the vocabulary, which is still minimal and that different patterns of development b.indonesia sentence, and also teachers who are less able to understand me.

          I hope this in english lesson smoga I can improve my vocabulary overs.

 

          I first learned english when I was in elementary school grades 4, when my age was about 9 years old, I was very pleased and proud to accept the lesson, understand first experience.

           But because it is the english language lessons new and rarely do I hear it was the obstacles appeared barriers that make me to understand the lesson.

 

Bank umum dan Bank syariah

Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat penukaran uang. Sedangkan menurut undang-undang perbankan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Bank umum
Pengertian bank umum menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1998 :

“Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.“

Fungsi-fungsi bank umum yang diuraikan di bawah ini menujukkan betapa pentingnya keberadaan bank umum dalam perekonomian modern, yaitu :
1.    Penciptaan uang
2.    Mendukung Kelancaran Mekanisme Pembayaran
3.    Penghimpunan Dana Simpanan Masyarakat
4.    Mendukung Kelancaran Transaksi Internasional
5.    Penyimpanan Barang-Barang Berharga
6.    Pemberian Jasa-Jasa Lainnya

Bank syariah
Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.